Pages

Saturday, June 2, 2012

- Bila Memiliki Bos Pemarah -

Mendambakan bos yang pengertian, tidak banyak komplain, dan selalu mendukung Anda? Hm, waspada, hal ini justru kurang baik untuk perkembangan Anda secara pribadi. Sebuah studi yang dikeluarkan oleh jurnal Experimental Social Psychology justru menganggap mereka yang memiliki bos pemarah justru baik.


Namun, hasil dari studi ini tergantung dengan kadar motivasi epistemik Anda. Motivasi epistemik adalah motivasi diri untuk mendapatkan persepsi akurat dari sebuah hal, untuk mengerti cara jalan sesuatu. 


"Orang yang memiliki motivasi epistemik tinggi selalu ingin mengerti apa yang sedang terjadi. Jika mereka mendapatkan perlakuan galak dari atasannya, umumnya tipe seperti ini akan mencari tahu mengapa atasannya tidak puas dengan hasil karyanya. Mereka yang seperti ini termotivasi untuk mengerti alasan kemarahan si bos, dan mereka tidak akan menghindar, kabur, atau memberontak atas kritikan ini," jelas psikolog dan pengarang The Mind-Body Mood Solution: The Revolutionary, Drug-Free Program for Healing Depression Naturally and Rapidly, Jeffrey Rossman, PhD. 


Periset dari Belanda mengikutkan 63 mahasiswanya dalam studi ini. Para relawan diberi pertanyaan untuk menilai Epistemic Motivation (EM) mereka. Kemudian, para mahasiswa diminta mengerjakan tugas sambil menerima masukan netral dan yang mengkritik hasil mereka. Mereka yang memiliki EM tinggi memperlihatkan kreativitas lebih tinggi setelah mendapatkan masukan berupa kritikan atau marah, sementara mereka yang EM-nya rendah akan bertingkah negatif.


Artinya, cara Anda melihat situasi bisa jadi bagian dari kepribadian Anda. Anda akan lebih baik menanggapi amarah dari atasan dengan energi positif jika Anda berfokus pada permasalahan yang sedang dihadapi ketimbang memasang moda pertahanan dan merasa sedang diserang. Sebelum Anda mengutuk dan menggerutu atas omelan bos, cobalah mengerti apa kata si bos dan pikirkan, apakah kata-katanya berupa masukan yang membangun atau tidak. Meski kata-kata menyakitkan dari bos tersebut memang tidak diinginkan, tahan keinginan untuk menuliskan kata-kata kasar dalam email atau melakukan konfrontasi langsung dengan si bos. Jika memang si bos sudah kelewat sering melontarkan kata-kata kasar, mengkritisi tidak adil, atau menjatuhkan karyawannya di hadapan orang lain, maka mungkin memang sudah waktunya para bawahan bersatu dan bicara dengan HRD. 


Berikut adalah beberapa cara menghadapi bos pemarah:
* Tingkatkan EM
Dalam studi ini, mereka yang memiliki EM tinggi, mampu menangani kemarahan bos dengan cara terbaik. Jadi, meski Anda secara alamiah tidak memiliki EM tinggi, Rossman mengatakan, Anda bisa melatihnya. Ubah kemarahan si bos menjadi sesuatu yang memicu kreativitas Anda. Perhatikan apa yang sedang terjadi dalam keadaan sekarang. "Ketimbang melakukan penilaian mendadak, menghakimi si bos, atau melakukan perkiraan yang tidak adil, cobalah untuk menjadi orang yang lebih ingin tahu dan mengerti lebih dalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Jika Anda tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan mengapa si bos marah-marah tanpa sebab, coba tanyakan pada orang lain yang bisa bersikap netral, jangan cari penyulut amarah (provokator)," jelas Rossman.


* Apakah itu benar-benar masalah?
Pertama, amat penting untuk menempatkan sesuatu dalam perspektif yang benar. Jika kemarahan adalah hal yang jarang dilakukan oleh bos, maka perhatikan apa yang penting dari cara pandangnya dan cari cara untuk membangun sikap yang baik mengenai keadaan tersebut. "Jika si bos bukan tipe yang meledak-ledak, maka mungkin ada suatu hal penting yang perlu diatasi. Lihatlah apakah Anda bisa menyalurkan energi untuk menyelesaikan permasalahan secepatnya," jelas Rossman. 


Kebalikannya, jika memang si bos adalah tipe yang selalu marah-marah, dan hal itu sangat mengganggu Anda, maka sudah saatnya Anda belajar bagaimana menghadapi si bos. "Bicarakan hal ini dengan bos Anda, lihat cara pandang mereka, dan tanyakan bagaimana cara mereka berhadapan dengan bos Anda. Jika memungkinkan dan keadaan santai, coba jelaskan pada si bos bahwa Anda bisa berperforma lebih baik dan Anda bisa mengapresiasinya jika ia bisa berkomunikasi lebih kalem dan tidak marah-marah," jelas Rossman. 


* Pelajari kebiasaannya
Marah sekali-sekali bukan hal yang harus dikhawatirkan, namun bos yang membentak, merusak suasana, mengancam, atau menyerang secara langsung pada bawahannya bisa jadi akan merusak mental serta fisik. Kenali dan pelajari kebiasaannya. 


Gunakan pula tubuh Anda untuk mengenali permasalahan yang dihadapi. Jika Anda mulai sering merasa enggan untuk berangkat kerja atau takut memikirkan kemarahan bos yang mulai terlalu sering, memikirkan pekerjaan Anda di luar waktu kerja, atau mengalami masalah fisik akibat stres, maka bisa dikatakan kemarahan bos Anda akan menggerogoti hidup Anda. Coba bicarakan dengan atasan dari bos Anda untuk membicarakan hal ini, atau dengan bagian HRD. Jika rekan kerja Anda juga merasakan hal yang sama, ajak mereka juga untuk membicarakan hal ini dengan orang-orang tadi. 


"Jika bos Anda bertingkah sangat kasar dan melukai orang lain, baik fisik ataupun mental, perusahaan Anda wajib mengetahui. Anda seharusnya tidak bekerja di bawah ancaman atau rasa takut yang berlebihan. Jika memang ada hal-hal yang bersifat personal, Anda bisa saja dipindahkan ke bagian lain dan bekerja di bawah orang lain, atau mereka bisa melatih atasan Anda untuk berlaku lebih baik. 


* Tahu kapan harus terlihat
Untuk mendapatkan sisi baik dari bos Anda, cobalah untuk jadi terlihat di matanya. Hal ini berarti, membiarkan pintu Anda terbuka, kadang berbicara dengan bos Anda untuk hal-hal yang kurang penting sekali pun. Guna membuatnya mengingat Anda sebagai pribadi yang menyenangkan dan teman di sisinya. 


Jika ternyata atasan Anda adalah tipe bully, dan suka mempermalukan Anda di depan publik, coba datangi ia secara pribadi dan utarakan keberatan Anda untuk dijadikan bahan bulan-bulanan. Secara tenang, utarakan keberatan Anda dan tinggalkan saja ia jika keadaan memanas atau mulai tidak mengenakkan. Anda punya hak untuk merasa nyaman di mana pun Anda berada, kan?



Sumber http://female.kompas.com

-Ryrie-

- Saat Rasa Jenuh Melanda -

"satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar adalah dengan mencintai apa yang anda lakukan, walaupun sebenarnya anda membencinya"


Pernahkah anda melakukan pekerjaan yang tidak anda sukai? dengan berbagai alasan tentunya, misalnya saja, karena pekerjaan tersebut bukan jobdesk yang seharusnya anda lakukan?
Pasti anda akan setengah hati melakukannya, karena setengahnya lagi yaa uring-uringan, bahkan sangat jenuh dengan keadaan tersebut.
Namun sadarkah anda bahwa mungkin saja pekerjaan yang anda tidak sukai itu bisa jadi adalah batu loncatan untuk karier anda, karena hal itu merupakan kesempatan anda untuk menunjukkan kemampuan anda yang lainnya. Jadi menurut hemat saya, jangan pernah menyerah untuk melakukan yang terbaik dalam pekerjaan anda, semenyebalkan apapun itu, karena kita tidak pernah tahu bagaimana hari depan kita dan manfaat dari pekerjaan yang tidak menyenangkan itu.

Untuk lebih menyemangati anda, saya punya catatan kecil untuk mengatasi rasa jenuh terhadap pekerjaan anda yang saya ambil dari beberapa sumber :

1. Mencari tantangan baru
    Mencari tantangan baru disini, berarti kita harus bisa mengeksplorasi apa yang telah kita miliki, memaksimalkan kemampuan kita dalam bidang pekerjaan juga hal-hal yang tengah kita hadapi.

2. Memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang menyenangkan
    Bila kita melakukan pekerjaan sebagai sesuatu yang menyenangkan seperti 'hobi' maka kita bisa menyenangi dan berinteraksi dengan baik, sehingga pekerjaan tersebut akan lebih menggairahkan bagi kita.

3. Memotivasi diri
    Kata-kata memotivasi sangat dapat memacu semangat dalam bekerja walau dalam keadaan yang paling tidak menyenangkan sekalipun. Bila kita sungguh-sungguh menikmati pekerjaan tersebut, maka pekerjaan yang kita jalani akan berjalan dengan lancar, namun jika kita benar-benar tidak menyukai pekerjaan kita dan sudah terlalu jenuh apa yang harus kita lakukan? cobalah kita mengingat orang-orang disekeliling kita, bahwa hasil kerja kita adalah untuk keluarga kita dan untuk diri sendiri, bukan melulu mengenai materi namun juga prestasi yang kita dapatkan akan membuat bangga orang-orang yang kita kasihi.

"Hidup adalah memilih, namun untuk memilih dengan baik, anda harus tahu siapa anda dan apa yang anda perjuangkan, kemana anda ingin pergi dan mengapa anda ingin sampai disana".


Semoga bermanfaat :)

-Ryrie-